Inspektorat Sulawesi Selatan » Artikel » Transformasi Audit Di Era Disrupsi Revolusi Industri 4.0

Transformasi Audit Di Era Disrupsi Revolusi Industri 4.0

InspektoratSulsel.Id – Chairman PT Crop, Chairul Tanjung saat mengisi Executive Lecture Series yang digelar Pusat Studi Kebijakan dan kependudukan (PSKK) UGM, Jumat (30/11/2019) mengemukakan bahwa saat ini kita mengalami dua disrupsi yang luar biasa, yang pertama di bidang teknologi karena Revolusi Industri 4.0 dan yang kedua adalah disrupsi gaya hidup karena adanya perubahan generasi. Disrupsi yang ditimbulkan oleh Revolusi Industri 4.0, memberikan tantangan dan peluang sekaligus di berbagai bidang.

Efek disruptif dari Revolusi Industri 4.0. juga mempengaruhi seluruh lingkup kerja pengawasan termasuk pengawasan yang dilakukan oleh Aparatur Pengawasan Intern Pemerintah (APIP). Efek yang melanda dunia kerja APIP tersebut, terjadi baik dalam proses bisnis maupun sistem kerja yang terkait, seperti perubahan di bidang corporate governance, perpajakan, internal control, manajemen risiko, auditing, akuntansi keuangan, dan akuntansi manajemen, serta lingkup kerja akuntansi lainnya.

Perubahan yang terjadi akan menjadi tantangan bagi APIP selaku auditor internal pemerintah (state auditor).  Pengaruh disrupsi pada sistem dan dinamika aktivitas audit, membuat peran APIP semakin vital dan signifikan, karena obyek pembinaan dan pengawasannya ikut terdisrupsi. Untuk itu, APIP harus mempersiapkan diri dan beradaptasi dengan Revolusi Industri 4.0 agar mampu tetap menjalankan fungsinya secara efektif di tengah tantangan dan risiko di era disruptif ini.

Tantangan Disrupsi Revolusi Industri 4.0

Setidaknya, ada tiga hal yang menjadi kata kunci dari disrupsi revolusi industri 4.0, yaitu: automasi, digitalisasi dan transformasi digital. Santoso (2013) mendefinisikan automasi sebagai proses untuk mengontrol operasi suatu alat secara otomatis yang dapat mengganti peran manusia untukmengamati dan mengambil keputusan. Sedangkan digitalisasi (digitalization) oleh Bloom, et. al (2018) diartikan sebagai proses yang menggunakan teknologi digital dan data untuk mengganti atau mentransformasi proses bisnis dengan tujuan menambah pendapatan, mengurangi biaya dan meningkatkan pelayanan.

Dampak dari automasi dan digitalisasi ini telah mengubah hampir seluruh lingkup kerja seorang akuntan dan auditor, terutama audit keuangan (financial audit), bahkan fungsi pada lingkup kerja akuntansi telah banyak tergantikan oleh prosedur yang terdigitalisasi. Bahkan World Economic Forum (2018) dalam The Future of Jobs Report 2018 dengan berani memprediksi bahwa sebagai automasi dan digitalisasi dalam Revolusi Industri 4.0 akan berefek pada menurunnya pekerjaan seorang akuntan hingga di angka 26% pada tahun 2022.

Proses audit intern yang menjadi tugas APIP akan menjadi terkendala apabila APIP tidak mampu menyesuaikan diri dengan geliat perubahan pada proses bisnis maupun sistem kerja yang terkait yang dijalankan oleh pemerintah daerah. Revolusi Industri 4.0 adalah hal yang niscaya, maka APIP pun mesti berbenah.

Peran APIP Di Era Disrupsi

Dengan mengacu pada pasal 1 ayat 3 PP No. 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP), diketahui bahwa pengawasan intern adalah seluruh proses kegiatan audit, reviu, evaluasi, pemantauan dan kegiatan pengawasan lain terhadap penyelenggaraan tugas dan fungsi organisasi, dalam hal ini seluruh organisasi di lingkungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Ini berarti bahwa APIP dituntut harus tetap menjalankan fungsinya secara efektif di tengah tantangan dan risiko di era disruptif ini. Saat pemerintahan dikelola dengan kian automasi dan digitalisasi, maka pengawasan pun harus bisa mengimbangi perubahan ini. Berbagai riset yang ada menunjukkan bahwa saat ini, profesi audit sedang mengalami pergeseran sebagai organisasi yang lebih digital, sehingga perubahan­perubahan yang terjadi dalam profesi auditor ini tidak dapat dihindari.

Setidaknya ada dua hal penting yang bisa menjadi perhatian agar APIP bisa menyesuaikan diri dengan tantangan disrupsi Revolusi Industri 4.0, yaitu: Pertama, kebijakan pengawasan disusun dengan berfokus pada fungsi assurance yang memadukan langkah-langkah deteksi, preventif, dan preskriptif berdasarkan hasil analisis risiko yang diolah dengan memanfaatkan advanced analytical skills yang berbasis teknologi pengolahan informasi kontemporer seperti big data analytics, internet of things dan artificial intelligence.

Kedua, APIP harus melakukan transformasi digital (digital transformation). Mengacu ke defenisi Schallmo & Williams (2018), dapat dikatakan bahwa  transformasi digital (digital transformation) dalam konteks APIP adalah sebagai sebagai suatu transformasi yang berkelanjutan di tingkat organisasi melalui model aktivitas dan operasional organisasi yang mutakhir yang dicapai melalui upaya digitalisasi yang menghasilkan peningkatan kinerja.

Kedua hal ini mensyaratkan adanya peningkatan kapabilitas APIP, terutama dalam penguasaan teknologi audit mutakhir. Hal ini juga membutuhkan komitmen dari manajemen APIP untuk berani berinvestasi dalam training dan teknologi disruptif berupa fraud prevention & detection, social accounting, serta sustainability reporting yang sistem berbasis digital. Tentu saja dengan tidak melupakan penegakan etika dan integritas APIP yang merupakan nilai tambah yang tidak bisa digantikan oleh artificial intelligence ala Revolusi Industri 4.0.

260 Total kunjungan 1 Kunjungan hari ini

Written by

Filed under: Artikel

Leave a Reply

*