Inspektorat Provinsi Sulawesi Selatan » Artikel » Sekali Lagi Soal Profesionalisme APIP

Sekali Lagi Soal Profesionalisme APIP

SONY DSCArtikel ini ditulis oleh Sekretaris Inspektorat Provinsi Sulawesi Selatan, Dr. Syafruddin Kitta, ST., MT., M.Si. Dalam artikel ini diulas tentang pentingnya profesionalisme pada sebuah profesi, serta diulas soal tanda-tanda atau hallmarks profesionalisme sebuah profesi, termasuk pengawas internal, yang diungkapkan oleh Spencer Pickett.

Tuntutan terhadap profesionalisme sebuah profesi menjadi sebuah keniscayaan, termasuk profesi auditor yang bergabung dalam Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP). Profesionalisme menjadi sebuah landasan bagi terbangunnya sebuah kepercayaan terhadap sebuah profesi. Tanpa itu, sebuah profesi akan mengalami degradasi kepercayaan yang selanjutnya akan mempengaruhi eksistensinya.

Bisa dibayangkan bila auditor yang tergabung dalam APIP tidak memiliki profesionalitas, atau kapabilitas APIP masih dalam kondisi ‘sekedar ada’, tentu kepercayaan terhadap kinerja APIP akan menurun. Bila tak ada kepercayaan dari auditee, maka eksistensi APIP akan berada pada situasi krisis.

Oleh karena itu, membincang kembali masalah profesionalisme APIP, termasuk di dalamnya soal standar audit yang berlaku, sistem pengendalian mutu, kehadiran lembaga profesi, dan kapasitas para penyandang profesi, dalam hal ini auditor perlu dilakukan. Sebab tanpa profesionalisme, mustahil kapabilitas APIP di Indonesia dapat meningkat sesuai dengan harapan seluruh stakeholder dan shareholder-nya.

Dalam Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) yang diterbitkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan RI (2007) yang selalu mewajibkan seluruh pemeriksa keuangan negara untuk menegakkan nilai-nilai profesionalisme, terdapat sebuah kalimat singkat yang menegaskan soal profesionalisme ini. “Untuk mempertahankan dan memperluas kepercayaan publik, pemeriksa harus melaksanakan seluruh tanggung jawab profesionalnya dengan derajat integritas yang tertinggi. Pemeriksa harus profesional, obyektif, berdasarkan fakta, dan tidak berpihak.”

Selain dalam SPKN, penegasan tentang wajibnya menegakkan profesionalisme bagi para auditor juga dikemukakan dalam Standar Profesional Ankuntan Publik (SPAP) yang diterbitkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia, serta dalam The Standard for The Professional Practice of Internal Audit (SPPIA) yang diterbitkan oleh The Institute of Internal Audit (IIA) pada tahun 2002.

Dalam Professional Practice Framework (PPF) yang diterbitkan oleh IIA pada tahun 2003, disebutkan bahwa salah satu attribute standar bagi pengawas intern, yaitu due professional care dan proficiency. Menurut IIA, yang dimaksud dengan due professional care dalam PPF tersebut adalah bahwa seorang pengawas internal harus menerapkan kepedulian dan memiliki keterampilan sebagai pengawas intern yang kompeten dan hati hati.

Due professional care atau menjaga perilaku profesional bukan berarti bahwa seorang pengawas intern adalah orang-orang yang tidak mungkin berbuat salah, tapi ini lebih bermakna bahwa seorang pengawas intern adalah seseorang yang selalu mengasah pengetahuan, keterampilan dan kompetensi lain melalui continuing professional development.

Sementara itu, yang dimaksud dengan proficiency dalam PPF terbitan IIA tersebut adalah bahwa seorang pengawas internal harus memiliki pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan kompetensi lain yang dibutuhkan untuk menjalankan tanggung jawabnya dengan kinerja yang baik. Aktivitas pengawasan intern secara kolektif harus memiliki pengetahuan, keterampilan dan kompetensi lain yang dibutuhkan untuk menjalankan tanggung jawabnya dengan baik.

Selain itu, proficiency atau penegakan kecakapan juga menuntut peran aktif dari pimpinan unit Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) dalam memberikan saran, masukan dan asistensi yang dibutuhkan apabila staf pengawas intern yang yang ada, kekurangan pengetahuan, keterampilan dan kompetensi lain yang dibutuhkan sesuai dengan kebutuhan penugasan.

Untuk mengukur sejauhmana penguasan pengetahuan, keterampilan dan kompetensi lain yang dimiliki oleh APIP, maka perlu dilihat dari peran yang dimainkan oleh APIP. Seperti diungkapkan oleh Herry Yana sutisna (2012), ada lima peran APIP ke depan, yaitu: meningkatkan status opini Laporan Keuangan, meningkatkan kepatuhan pengelolaan keuangan negara, meningkatkan efektivitas pengelolaan keuangan negara, menurunkan tingkat penyalahgunaan wewenang, dan mengawal reformasi birokrasi.

Bila dikaitkan dengan peran ini, menurut Herry, perlu dilakukan peningkatan kompetensi APIP dan tata kelola unit Pengawas Internal. Hal ini disebabkan karena kondisi APIP saat ini sangat bervariasi, memang sudah ada yang baik, namun masih banyak yang krang kompeten. Hal ini didukung oleh hasil kajian BPKP yang menunjukkan sebagian besar APIP masih pada level satu (initial) berdasarkan skala pada metode IACM.

Terkait tata kelola APIP, Herry menyoroti sistem rekruitmen APIP. Menurutnya, pada beberapa daerah, APIP masih dianggap sebagai tempat yang bukan favorit. Hal ini bbisa diperbaiki dengan membangun sebuah sistem rekruitmen tenaga auditor yang baik. Selain itu, peran APIP harus diperluas dengan dilibatkan sejak tahap perencanaan.

Tapi yang harus diwaspadai, pelibatan APIP sejak tahap perencanaan, bukan berarti APIP terlibat dalam penyusunan perencanaan dan penganggaran, sebab ini bertentangan dengan profesionalisme APIP. Ini berarti bahwa APIP melakukan reviu sebelum perencanaan dan usulan dari DPRD disahkan oleh Kepala Daerah.

Salah satu faktor yang juga mendesak untuk mendorong peningkatan profesionalisme APIP adalah tersedianya organisasi profesi. Meskipun kehadiran dua jalur APIP menjadi tantangan tersendiri, tapi selayaknya Pejabat Fungsional Aditor (PFA) dan Jabatan Fungsional Pejabat Pengawas Urusan Pemerintahan di Daerah (Jafung P2UPD) diwadahi dalam satu organisasi profesi.

Kunci membangun profesionalisme APIP menurut Herry, setidaknya ada dua. Pertama, Perlu peningkatan kompetensi APIP melalui pendidikan dan pelatihan serta sertifikasi. Kedua, tata kelola APIP yang berkualitas melalui penguatan kelembagaan APIP. Dan tentu saja yang terakhir, harus ada koordinasi yang kuat antar APIP.

Adapun tanda-tanda atau hallmarks profesionalisme sebuah profesi, termasuk pengawas internal, diungkapkan oleh Spencer Pickett dalam bukunya The Internal Auditing Handbook (2003). Pickett mengajukan 11 halmarks sebagai berikut:

  1. Memiliki kerangka umum pengetahuan yang jelas (a common body of knowledge atau CBOK). CBOK mencerminka sebuah tingkat pengetahuan minimal yang harus dipelajari dan dipahami oleh setiap penyandang profesi agar dapat menjalankan profesinya.
  2. Memiliki program pendidikan dan pelatihan. Penyandang profesi harus mampu menjaga keahlian dan kualitas diri dalam menjalankan profesinya.
  3. Memiliki Kode Etik. Kode Etik merupakan sistem norma, nilai dan aturan profesional tertulis yang secara tegas menyatakan apa yang baik dan boleh bagi penyandang profesi, dan apa yang tidak baik dan tidak boleh.
  4. Memiliki kesulitan teknis tertentu. Layanan profesi memiliki tingkat kesulitan tertentu yang berhubungan dengan kerangka umum pengetahuannya.
  5. Adanya organisasi profesi. Sebuah profesi harus memiliki lembaga profesi yang mencerminkan kepentingan anggota dan menjaga kualitas layanan yang diberikan.
  6. Adanya praktisi yang berkualitas. Nama besar sebuah profesi sering tercipta karena kualitas istimewa anggotanya.
  7. Adanya layanan pada masyarakat. Hal utama pada sebuah profesi adalah adanya layanan tertentu pada masyarakat.
  8. Pengendalian atas layanan. Tidak dapat dikompromikan lagi bahwa seorang profesional harus memberikan layanan sesuai standar yang berlaku pada klienya.
  9. Adanya penilaian kepatuhan terhadap peraturan. Lembaga profesi harus menegakkan peraturan yang berlaku dan memberi sanksi pada anggota yang tidak dapat memenuhinya.
  10. Penegakan sanksi atas pelanggaran. Hal ini merupakan jaminan bahwa setiap penyandang profesi memiliki kinerja sesuai standar sebagai kewajiban formal dari profesi kepada masyarakat.
  11. Memiliki jurnal. Sebuah profesi umumnya memiliki sarana pengembangan profesi berupa jurnal atau majalah.
535 Total kunjungan 2 Kunjungan hari ini

Written by

Filed under: Artikel

Leave a Reply

*