Inspektorat Provinsi Sulawesi Selatan » Artikel » Pengantar Audit Forensik

Pengantar Audit Forensik

Tulisan ini ditulis oleh Andi Fachri, SE., staf sub bagian perencanaan Inspektorat Provinsi Sulawesi Selatan. Di dalamnya dijelaskan relasi antara akuntansi, hukum dan auditing di dalam akuntansi forensik, serta contoh implementasinya oleh BPK dalam kasus skandal Bank Bali.

Secara sederhana, Audit Forensik terdiri dari dua kata, yaitu audit dan forensik. Audit adalah tindakan untuk membandingkan kesesuaian antara kondisi dan kriteria. Sementara forensik adalah segala hal yang bisa diperdebatkan di muka hukum / pengadilan.

Audit forensik berbeda dengan audit tradisional. Perbedaan yang paling teknis antara keduanya adalah masalah metodologi. Dalam audit tradisional, mungkin dikenal ada beberapa teknik audit yang digunakan. Teknik-teknik tersebut antara lain adalah prosedur analitis, analisa dokumen, observasi fisik, konfirmasi, review, dan sebagainya. Namun, dalam Audit Forensik, teknik yang digunakan sangat kompleks.

Teknik-teknik yang digunakan dalam audit forensik menjurus secara spesifik untuk menemukan adanya fraud. Teknik tersebut banyak yang bersifat mendeteksi fraud secara lebih mendalam dan bahkan hingga ke level mencari tahu siapa pelaku fraud, sehingga teknik audit forensik mirip teknik yang digunakan detektif untuk menemukan pelaku tindak kriminal.

Teknik yang digunakan antara lain adalah metode kekayaan bersih, penelusuran jejak uang/aset, deteksi pencucian uang, analisa tanda tangan, analisa kamera tersembunyi (surveillance), wawancara mendalam, digital forensic, dan sebagainya. Membicarakan tentang audit forensik (Forensic Accounting Investigation), tentu tidak bisa dilepaskan dari akuntansi forensik. Sebab secara konsepsional, apa yang disebut sebagai audit forensik maka dalam ilmu akuntansi, dikenal dengan istilah akuntansi forensik.

Menurut Association of Certified Fraud Examiners (ACFE), forensic accounting/auditing merujuk kepada fraud examination. Dengan kata lain keduanya merupakan hal yang sama, yaitu: “Forensic accounting is the application of accounting, auditing, and investigative skills to provide quantitative  financial information about matters before the courts.” Cheif editor Journal of Forensic Accounting,

D. Larry Crumbley menyebutkan bahwa akuntansi forensik adalah akuntansi yang akurat untuk tujuan hukum. Atau, akuntansi yang tahan uji dalam kancah perseteruan selama proses pengadilan, atau dalam proses peninjauan yudisial atau tinjauan administratif. Berangkat dari defenisi D. Larry Crumbley, dapat dipahami bahwa akuntansi forensik tidak berurusan dengan akuntansi yang diatur dalam generally accepted accounting principles (GAAP). Jadi, akuntansi forensik tidak identik dengan akuntansi secara umum, ukurannya malah pada apa yang menurut hukum atau ketentuan perundang-undangan adalah akurat.

Mengenai kata forensik sendiri, dengan mengacu pada Merriam Webster’s Collagiate Dictionary (edisi 10): 1) Belonging to, used in, or suitable to court of judicature or to public discussion and debater; 2) Argumentative, rhetorical; dan 3) Relating to or dealing with the application of scientific knowledge to legal problems.

Akuntansi forensik mengacu pada makna ketiga dari defenisi di atas. Bahwa akuntansi forensik merupakan penerapan disiplin akuntansi pada masalah hukum. Apa yang diterapkan pada masalah hukum ini bukan saja akuntansi, namun include di dalamnya auditing. Maka implementasi audit forensik adalah mengacu kepada defenisi akuntansi yang seluas-luasnya, yang mencakup di dalamnya persoalan auditing.

Lalu dikaitkan dengan penjelasan D. Larry Crumbley, maka dapat dikatakan bahwa audit forensik adalah implementasi akuntansi untuk kepentingan dan pada ranah hukum. Ini berarti bahwa akuntansi forensik, dalam representasinya meliputi tiga bidang, yaitu: akuntansi, hukum dan auditing.

Namun ranah hukum yang dimaksud, tidak hanya terkait dengan penyelesaian di dalam pengadilan, namun juga di luar pengadilan. Berperkara atau beracara di pengadilan melalui litigasi, sementara penyelesaian di luar pengadilan (out-of-court-settlement) dilakukan secara non-litigasi. Penyelesaian yang dilakukan di luar pengadilan dapat berbentuk arbitrase dan alternatif penyelesaian sengketa (alternative dispute resolution).

Theodorus M. Tuanakotta dalam Akuntansi Forensik & Audit Investigatif menggunakan segitiga akuntansi forensik untuk menggambarkan akuntansi forensik. Dari ketiga konsep yang digunakan dalam segitiga forensik: hukum, akuntansi dan auditing, yang paling penting menurut Theodorus adalah konsep hukum. Sebab konsep hukum yang digunakan untuk menetapkan ada atau tidak adanya kerugian. Dan melalui konsep auditing, konsep hukumnya juga akan memahami bagaimana cara menghitung kerugiannya.

Dalam konteks publik maupun urusan privat, akuntansi forensik selalu berurusan dengan kerugian. Di sektor publik, kerugian yang dimaksud dapat berbentuk kerugian negara atau kerugian keuangan negara, sementara di sektor privat juga tentu ada kerugian yang ditimbulkan karena adanya pengingkaran terhadap sebuah perjanjian sebelumnya. Soal kerugian inilah yang disebut oleh Theodorus sebagai titik pertama segitiga akuntansi forensik.

Adapun titik kedua dari segitiga akuntansi forensik Theodorus adalah perbuatan melawan hukum. Sebab apabila tak terpenuhi unsur adanya perbuatan melawan hukum, maka tidak ada pihak yang bisa dituntut sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kerugian yang timbul. Sementara titik ketiganya adalah korelasi antara kerugian dengan perbuatan melawan hukum yang menyebabkan kerugian. Perbuatan melawan hukum, serta kausalitas antara perbuatan melawan hukum dengan kerugian yang timbul merupakan ranah para ahli hukum, sementara menghitung besarnya kerugian merupakan ranah para ahli akuntansi forensik. Dan dalam proses pengumpulan bukti, keduanya bisa saling membantu.

Sementara itu, dalam perspektif auditing sebagai salah satu konsep dalam akuntansi forensik, mereka akan bekerja secara fokus mengamati persoalan keuangan, ini berarti juga bahwa merekalah yang melakukan pemeriksaan keuangan dengan mengacu pada prinsip-prinsip akuntansi. Apabila proses audit forensik sudah dijalankan kemudian ada temuan atau ada sanggahan (allegation) dari pihak lain, atau ada keluhan (complaint) dan mengarah kepada penyimpangan (fraud), maka kondisi demikian bisa didalami dengan menggunakan media audit investigatif.

Audit investigatif merupakan titik awal dari akuntansi forensik. Maka bisa dikatakan bahwa audit forensik pada dasarnya dibutuhkan untuk mengatasi potensi penyimpangan (fraud). Tindak pidana korupsi dan kejahatan kerah putih (white-collar crime) hanyalah sedikit dari sekian banyak bentuk fraud. Audit Forensik dapat bersifat proaktif maupun reaktif. Proaktif artinya audit forensik digunakan untuk mendeteksi kemungkinan-kemungkinan risiko terjadinya fraud atau kecurangan.

Sementara itu, reaktif artinya audit akan dilakukan ketika ada indikasi (bukti) awal terjadinya fraud. Audit tersebut akan menghasilkan red flag atau sinyal atas ketidakberesan. Dalam hal ini, audit forensik yang lebih mendalam dan investigatif akan dilakukan.

Dengan demikian, audit forensik dapat diaplikasikan dalam bidang kehidupan yang luas, di antaranya: (1) Dalam penyelesaian sengketa antar individu; (2) Di perusahaan swasta dengan berbagai bentuk hukum, perusahaan terbuka maupun perusahaan yang memperdagangkan saham atau obligasinya di bursa, joint venture, dan special purpose companies; (3) Di perusahaan yang sebagian besar atau keseluruhan sahamya dimiliki oleh negara, baik di pusat maupun di daerah, seperti Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), dan; (4) Di departemen/kementerian, pemerintah pusat dan daerah, MPR, DPD, DPR/DPRD, Badan Layanan Umum, dan lain sebagainya.

Menurut Taufiequrachman Ruki (2011), salah satu contoh audit forensik yang pernah dilakukan oleh BPK adalah audit forensik terhadap Bank Bali untuk menelusuri aliran dana Kasus Bank Bali. Dari hasil adit itu, bisa diketahui dengan jelas siapa yang menerima aliran dana Bank Bali.

393 Total kunjungan 2 Kunjungan hari ini

Written by

Filed under: Artikel

Leave a Reply

*