Inspektorat Provinsi Sulawesi Selatan » Artikel » Mekanisme dan Strategi Risiko Kecurangan Laporan Keuangan: Studi Kasus Perusahaan Komersial Malaysia

Mekanisme dan Strategi Risiko Kecurangan Laporan Keuangan: Studi Kasus Perusahaan Komersial Malaysia

INSPEKTORATSULSEL.ID – Artikel ini merupakan Saduran oleh Ir. Hj. Suryani Hakim, M.M., Auditor Madya pada Inspektorat Prov. Sulsel dari artikel yang disusun oleh Norazida Mohamed (Universiti Teknologi MARA Malaysia) dan Moorison Handley-Schachelor (Teesside University, United Kingdom), dan dipublikasikan pertama kali di Jurnal Procedia – Social and Behavioral Sciences Vol. 145 Tahun  2014, Halaman 321 – 329.

Pengawasan kecurangan laporan keuangan telah menarik perhatian dalam beberapa tahun terakhir karena banyaknya collateral damage yang tak terhitung yang dapat menguras keberhasilan jangka panjang perusahaan. Laporan keuangan harus terlihat sebagai alat handal bagi para investor untuk membuat keputusan investasi dan bagi para stakeholder perusahaan untuk menilai kinerja keuangan perusahaan. Namun demikian, karena banyaknya kasus kecurangan laporan keuangan yang dilaporkan, kepercayaan publik pada profesi akuntansi dan audit telah berkurang dan juga memberikan dampak besar terhadap kecurangan perusahaan.

Kecurangan laporan keuangan berbeda dari jenis kecurangan lainnya di lingkungan perusahaan, alih-alih menjadi korban atau pelaku kecurangan, perusahaan biasanya menjadi instrumen kecurangan. Hal ini tentunya dapat mengurangi insentif perusahaan untuk mengawasi kecurangan yang dilakukan terhadap pihak ketiga, investor dan terhadap perusahaan itu sendiri. Selain itu, keterlibatan internal merupakan hal yang umum terjadi dan karena itu para pelaku biasanya bekerja dalam sistem perusahaan, pelaku cenderung memiliki peran sebagai manajemen senior dan karena itu mereka memiliki kemampuan untuk merancang atau menghindari pengawasan.

Perbedaan konsekuensial lebih lanjut antara kecurangan laporan keuangan dan kecurangan terhadap korporasi adalah bahwa kecurangan laporan keuangan tidak berdampak pada bisnis korporasi yang sebenarnya. Hal ini tentunya merupakan masalah pelaporan hasil bisnis yang tidak benar ke pihak luar, dimana hal ini dapat terjadi karena adanya intervensi pada saat proses pencatatan, yang seringkali tanpa mempengaruhi catatan yang digunakan untuk pelaporan internal dan pengambilan keputusan. Dengan begitu, hal ini dapat melemahkan kasus bisnis untuk pencegahan kecurangan laporan keuangan.

Korban kecurangan laporan keuangan biasanya merupakan seorang investor di suatu perusahaan (Teoh, Welch dan Wong 1998), khususnya investor di Penawaran Umum Perdana ( initial public offering/ IPO) di mana kekayaannya mengalir langsung dari investor ke perusahaan dan dapat digunakan pada kebijakan manajemen.

Strategi dan pengawasan dalam kaitannya dengan pengawasan kecurangan laporan keuangan merupakan suatu keharusan dalam lingkungan bisnis saat ini. Menurut Biegelman (2009), “Satu ons pencegahan tidaklah sama dengan satu pon pengobatan”; Oleh karena itu, risiko terjadinya kecurangan dapat dikurangi melalui kombinasi langkah-langkah pencegahan, penghindaran, dan deteksi.

Menurut studi terbaru yang dilakukan oleh Asosiasi Pemeriksa Kecurangan Bersertifikat (2012), perusahaan tanpa pengawasan kecurangan telah mengalami kerugian sekitar 45% lebih besar dari perusahaan dengan pengawasan kecurangan. Sehubungan dengan ini, sangat penting bagi setiap perusahaan untuk melakukan pengawasan kecurangan, terutama strategi pencegahan, deteksi dan respon terhadap kecurangan laporan keuangan. Strategi ini dapat meyakinkan individu bahwa mereka tidak harus melakukan kecurangan karena akan adanya kemungkinan peningkatan pencegahan, deteksi dan hukuman baru.

Terdapat dua pihak yang terlibat dalam pengawasan kecurangan laporan keuangan, yaitu, regulator negara dan perusahaan itu sendiri. Kedua pihak harus memainkan peran masing-masing agar dapat mengurangi terjadinya kecurangan. Selain itu, komite audit dapat menjadi bagian dari mekanisme monitoring untuk mengawasi integritas dan kualitas dari proses laporan keuangan. Johnson (2002, dikutip dalam Solaiman, 2006) dokumen dengan, ‘aturan hukum yang baik’ merupakan salah satu parameter penting dalam pengembangan pasar sekuritas. Johnson mengindikasikan bahwa regulasi sekuritas dan praktik akuntansi yang baik merupakan dua mekanisme penting dalam memerangi kecurangan laporan keuangan.

Struktur pengawasan internal dan fungsi audit yang efektif merupakan mekanisme penting untuk mengawasi kecurangan laporan keuangan. NCIR (1987) mendokumentasikan bahwa manajemen bertanggung jawab untuk merancang pengawasan internal yang memadai dan efektif dalam proses laporan keuangan. Auditor internal dan auditor eksternal harus memastikan bahwa rancangan pengawasan internal harus memadai dan efektif dalam mencegah dan mendeteksi kecurangan laporan keuangan. Sehubungan dengan ini, auditor internal bertanggung jawab membantu manajemen untuk merancang, memelihara, dan memantau sistem pengawasan internal.

Sementara itu, auditor eksternal telah dianggap sebagai yang tanggung jawab untuk mendeteksi kesalahan dalam laporan keuangan. Auditor juga diharapkan untuk memiliki sifat mandiri dalam peran sosial mereka, yang tentunya akan memberikan kontribusi terhadap akuntabilitas manajemen perusahaan, sehingga dapat meningkatkan nilai informasi pelaporan keuangan yang telah dikeluarkan oleh manajemen perusahaan. Namun, praktisi audit dianggap telah gagal dalam kewajiban etis mereka jika mereka tidak menggunakan mekanisme perlindungan, seperti whistleblowing (tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau beberapa orang karyawan untuk membocorkan kecurangan entah yang dilakukan oleh perusahaan atau atasannya kepada pihak lain), dan melakukan peran mereka seperti yang diharapkan oleh profesi audit (Alleyne, Hudaib dan Pike, 2013).

Sehubungan dengan dampak pengawasan internal terhadap kualitas informasi dalam laporan keuangan, Altamuro dan Beatty (2010) mengemukakan bahwa peningkatanan pengawasan internal mengarah pada perbaikan pelaporan keuangan. Namun, hal ini masih dalam konteks risiko bias pelaporan optimistik atau pesimistik daripada kecurangan secara menyeluruh.

Peran audit eksternal dalam mencegah kecurangan laporan keuangan sangatlah penting. Ball dan Shivakumar (2008) mengemukakan bahwa pelaporan langsung sebelum IPO lebih konservatif dibandingkan pada waktu lainnya, sementara Chen, Kelly dan Salterio (2012) mengemukakan bahwa manajer yang berada dalam posisi untuk memalsukan rekening cenderung tidak akan melakukannya jika mereka belajar mengenai tindakan audit eksternal yang dirancang untuk mencegah hal ini.

Bagaimanapun, auditor eksternal tidak selalu dapat diandalkan untuk mendeteksi kecurangan laporan keuangan, karena mereka memiliki sumber daya yang terbatas untuk melakukannya. Selain itu, auditor eksternal cenderung mengangapnya berada di luar lingkup kerja mereka untuk mendeteksi kecurangan secara umum (Humphrey, Moizer dan Turley, 1993). Selain itu, di negara-negara seperti Inggris, sangat sulit bagi para investor untuk menuntut auditor, karena para investor ini tidak memiliki hubungan langsung dengan auditor, kecuali adanya keadaan tertentu yang telah menyebabkan hubungan seperti itu muncul (seperti dalam ADT Ltd v BDO Binder Hamlyn [1996]) dan juga karena baik opini audit maupun laporan keuangan mengandung saran investasi (Candler v crane, Natal dan Co [1951], Caparo Industries plc v Dickman [1990]).

Penelitian ini memberikan pengetahuan tentang pentingnya memiliki program anti-kecurangan, khususnya pada strategi pencegahan, deteksi dan respon atas terhadap kecurangan laporan keuangan dalam menanggapi review “Managing the Business Risk of Fraud”. Penelitian ini menunjukkan bahwa rancangan program anti-kecurangan harus berfokus kepada tiga elemen utama, yaitu: (1) Mekanisme risiko kecurangan laporan keuangan, (2) Evaluasi kecurangan laporan keuangan, (3) Tanggapan kecurangan laporan keuangan

Mekanisme risiko kecurangan laporan keuangan

Mekanisme risiko kecurangan laporan keuangan bertujuan untuk memberikan rincian program yang telah dirancang untuk memastikan kemampuan adaptasi dan kesesuaian program. Penelitian ini mencakup tiga strategi pencegahan, deteksi dan respon dalam kaitannya dengan kecurangan laporan keuangan yang seharusnya disesuaikan dengan sifat bisnis, struktur organisasi dan seluruh sistem organisasi.

a. Strategi pencegahan

Strategi pencegahan harus didukung baik dari lingkungan internal maupun lingkungan eksternal. Pencegahan dari lingkungan internal diperoleh dari strategi pencegahan yang dirancang oleh manajemen perusahaan dan pencegahan dari lingkungan eksternal diperoleh dari regulator dan badan-badan independen yang relevan. Berikut adalah tujuh strategi pencegahan yang ditemukan efektif dalam pencegahan kecurangan  laporan keuangan dalam sebuah organisasi:

  1. Nilai kejujuran dan integritas
  2. Pengawasan internal spesifik terhadap laporan keuangan
  3. Penilaian pengawasan internal terhadap laporan keuangan
  4. Partisipasi auditor internal dalam auditing laporan keuangan
  5. Peran badan komite audit
  6. Manajemen risiko kecurangan laporan keuangan
  7. Efektivitas tata kelola perusahaan

 

b. Strategi deteksi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode deteksi konvensional biasanya ditemukan dari whistleblowing dan hotline (saluran telepon dengan staf yang selalu dan mampu memberikan bantuan segera). Selain prosedur deteksi ini, audit internal dan audit eksternal diharapkan dapat mendeteksi kecurangan dalam laporan keuangan.

Sehubungan dengan ini, penelitian menunjukkan bahwa perusahaan telah mempertimbangkan penggunaan alat deteksi dan perangkat lunak, seperti dalam penelitian sebelumnya melalui teknik data mining (Bose dan Mahapatra, 2001), Analisis Multipel Diskriminan (Altman, 1968), Ontologi Kecurangan Laporan Keuangan (Dillon dan Hadzic, 2009) dan Hukum Benford (Durtschi, Hillison dan Pacini, 2004). Penelitian ini juga memungkinkan perusahaan untuk membantu individu dalam melaporkan kesalahan tersebut dengan menggambarkan secara jelas seperti apa yang dimaksud dengan kecurangan laporan keuangan.

Selain itu, informan juga harus dilindungi. Penelitian ini juga menunjukkan ketersediaan whistleblowing dan saluran hotline untuk langsung melapor ke Badan Pengawas. Oleh karena itu, setiap perbuatan yang dilakukan oleh manajemen perusahaan akan diawasi dan dimitigasi.

c. Strategi respon

Penelitian ini menyarankan empat tindakan yang harus diambil perusahaan dalam strategi respon mereka. Pertama, dewan direksi harus memberikan prioritas terhadap masalah kecurangan laporan keuangan dalam rapat dewan. Untuk melaksanakan program anti kecurangan, dewan perlu membentuk komite kecurangan yang terdiri dari direktur independen dan direktur dependen. Direktur independen berperan penting pada kasus yang melibatkan direksi perusahaan dalam hal kecurangan laporan keuangan. Kedua, komite kecurangan harus merencanakan prosedur respon pada setiap kasus kecurangan laporan keuangan.

Komite kecurangan bertanggung jawab untuk menyediakan saluran pelaporan kecurangan hingga proses penuntutan, di mana para pelaku kecurangan laporan keuangan akan ditangani sesuai dengan kebijakan kecurangan perusahaan dan akan diberikan tindakan disiplin sebelum tindakan hukum diambil. Ketiga, penelitian menunjukkan bahwa dewan direksi membentuk komite penyelidikan kecurangan.

Komite ini akan bertanggung jawab dalam menyelidiki kasus yang dilaporkan, memeriksa penyebab kecurangan, dan mengidentifikasi pelanggaran proses pengawasan laporan keuangan. Keempat, penelitian ini mempromosikan penunjukan akuntan forensik untuk menangani penyelidikan kecurangan laporan keuangan. Akuntan forensik ahli dalam hal audit, akuntansi dan keterampilan penyelidikan yang berkaitan dengan kecurangan akuntansi, khususnya, pada kecurangan laporan keuangan. Penelitian ini mengatakan bahwa program anti-kecurangan dapat mengawasi kasus kecurangan laporan keuangan di perusahaan publik secara signifikan.

Strategi yang dirancang ini mencerminkan tidak adanya toleransi pada setiap kasus kecurangan laporan keuangan perusahaan dan menunjukkan bahwa perusahaan telah memberikan respon secara tepat dan pada waktu yang tepat.

Evaluasi kecurangan laporan keuangan

Penelitian ini menganggap evaluasi risiko kecurangan laporan keuangan sebagai suatu sistem yang penting untuk mengevaluasi potensi risiko kecurangan laporan keuangan. Manajemen perusahaan harus mengidentifikasi eksposur risiko kecurangan laporan keuangan terhadap setiap proses laporan keuangan. Eksposur yang diidentifikasi ini dievaluasi secara berkala melalui skema kecurangan laporan keuangan. Skema ini dapat ditemukan di berbagai departemen, tempat dan kelompok populasi perusahaan. Sehubungan dengan ini, setiap perusahaan harus berfokus pada identifikasi laporan keuangan pelaku kecurangan dan bagaimana mereka memanfaatkan sistem dan menyembunyikan kecurangan tersebut.

Responsivitas kecurangan laporan keuangan

Selain mekanisme dan evaluasi risiko kecurangan laporan keuangan, penelitian ini juga menganggap bahwa responsivitas risiko kecurangan laporan keuangan merupakan hal yang penting untuk memastikan seluruh manajemen sesuai dengan program yang telah dirancang. Oleh karena itu, komitmen individu perusahaan harus dilakukan melalui proses a. Proses afirmasi harus ditandatangani oleh pegawai untuk menegaskan pemahaman mereka mengenai rancangan pegawasan. Responsivitas program anti-kecurangan ini dapat dicapai melalui proses monitoring yang dilakukan oleh manajemen perusahaan bersama-sama dengan auditor internal dan eksternal. Proses monitoring juga harus berfokus pada prosedur pelaporan dan program manajemen risiko.

133 Total kunjungan 2 Kunjungan hari ini

Written by

Filed under: Artikel

Leave a Reply

*