Inspektorat Provinsi Sulawesi Selatan » Artikel » How Are You Going?

How Are You Going?

Artikel ini ditulis oleh Ifa Nahrifa Hanafi, S.Pt., M. Agr., staf sub bagian evaluasi dan pelaporan Inspektorat Provinsi Sulawesi Selatan. Artikel ini memberikan tips dan trik untuk menghindari terjadinya misunderstanding yang berakibat terjadinya miscommunication.

Mendapatkan kesempatan menikmati pendidikan di luar negeri seperti Australia adalah seperti sebuah kenyataan yang tidak pernah ada dalam mimpi. Berbekal Bahasa Inggris sebatas“yes and no” yang dipelajari dengan terpaksa sejak SMP dan SMA, ditambah pelatihan selama 3 bulan di Denpasar Bali, berangkatlah saya ke sebuah kota bernama Armidale, di negara bagian New South Wales, Australia.

Sampai di domestic airportkota Sydney untuk menumpang pesawat ke Armidale, seorang petugas bandara yang ganteng dan ramah bertanya kepada saya, “Are you going to Armidale?” Saya terdiam. Saya tahu dia menanyakan tujuan saya kemana, tapi yang saya tidak tahu adalah tempat yang dia maksud. Si petugas nanya lagi kali ini lebih keras “Excuse me, are you going to Armidale?”.

Oh God, ternyata dia menyebut kata “Armidale” tapi dengan aksen Australia yang kental. Jadi, kalau selama ini saya mengucapkan Armidale dengan logat Indonesia “Arr-mii-del”, namun sang petugas menyebutnya”Aaaa-midel”. Hahaha, 1-0 untuk petugas ganteng.  “Yes sir, I am heading to Armidale, I am a student and this is my first  time in Australia”,jawab saya dengan wajah yang sangat memelas, dengan maksud agar dia iba pada saya.

Ternyata bukan hanya iba, dia juga membantu saya mengangkat koper seberat 40 kg dan mengantar saya menuju waiting room, dan ditutup dengan manis pakai senyuman.  Thank you sir, you are awesome.

Kekeliruan dalam memahami kata ternyata bukan hanya terjadi pada diri saya.  Seorang teman lain dari Indonesia disapa dengan ramah oleh dosennya, “Hi, how are you going”. Dan jawab teman saya adalah “I am going by bus”. Yang kemudian terjadi adalah ‘silent awkward’, alias keheningan yang aneh. Mengapa? Karena di Australia kalimat ‘Hi, how are you going?’ berarti ‘How do you do?’ atau ‘How are you?’ atau ‘Apa kabar?’, namun teman saya mengartikannya “Bagaimana kamu sampai kesini?’.  Teman itu tidak salah, cuma belum tahu saja.

Misunderstood atau misunderstanding adalah hal yang lazim terjadi dalam kehidupan kita.Jangankan di Australia yang notabene menggunakan bahasa yang berbeda dengan bahasa Indonesia, di negara kita tercinta ini, kita pun bisa memahami bahasa yang sama secara berbeda.Terkadang kita mencoba untuk menyampaikan suatu maksud tertentu kepada seseorang namun yang terjadi adalah pesan atau tujuan dari pembicaraan kita bisa diartikan lain oleh penerima.

Teknik berkomunikasi yang mumpuni ternyata tidak hanya tercipta dengan sendirinya, namun bisa dilatih dan dikembangkan sesuai dengan tujuan yang ingin kita capai dalam proses komunikasi itu sendiri. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk membantu kita meningkatkan kemampuan dalam proses penyampaian informasi.

Pertama, Berbicara tenang dengan suara dan artikulasi yang jelas. Pernahkah kita mengikuti sebuah acara seminar atau rapat,dimana kita benar-benar merindukan kamar tidur ber-AC untuk membenamkan diri kedalam selimut dan kasur empuk, hanya karena tidak bisa mengerti satu pun kata yang diucapkan oleh pembicara. Atau kita setengah mati memahami kesedihan hati seorang kawan yang curhat karena ngomongnya sambil teriak histeris bahkan didominasi suara isak tangis.

Coba tenangkan diri, tarik napas, dan kemudian berbicaralah dengan pilihan kata-kata yang jelas dan volume suara sedang. Tidak perlu menggunakan bahasa rumit karena belum tentu dimengerti dan tidak perlu berteriak, kecuali kalau anda adalah perwakilan mahasiwa yang sedang demonstrasi di flyover.

Kedua, Pahami bahasa isyarat. Adegan transaksi jual beli kerbau dalam sarung di film “Negeri 5 Menara” adalah sebuah contoh penggunaan bahasa isyarat yang efektif.  Tentunya dalam hal ini diperlukan kesamaan mindset antara kedua belah pihak yang berkomunikasi. Biasanya ini banyak digunakan oleh orang-orang yang sudah dekat satu sama lain, yang sudah saling memahami maksud masing-masing hanya dengan kerlingan mata atau senyuman tipis.

Bisa juga dengan menggunakan kata-kata atau kode-kode rahasia, tapi ingat, hanya dengan orang yang kita anggap bisa memahaminya, misalnya jangan sms pakai bahasa alay untuk orang tua, pusing mereka. Jangan coba-coba pakai bahasa isyarat dengan orang yang belum terlalu dikenali, karena bisa disalahartikan dan akibatnya tidak terbayangkan. Kecuali untuk wajah memelas saya di depan petugas bandara Australia, it really worked well.

Ketiga,Lihat situasi. Sibuk berbicara tanpa henti walaupun orang-orang sudah kelihatan bosan atau tiba-tiba memotong sebuah diskusi serius untuk menyampaikan sebuah informasi yang super duper tidak penting, sepertinya sangat menyebalkan.

Pelajari keadaan di sekitar kita saat hendak memulai pembicaraan, misalnya siapa pendengar kita (tua, muda, teman, atasan), apakah penerima informasi sudah siap untuk mendengarkan dan berapa lama sebaiknya kita harus berbicara. Jangan sampai kita sibuk berbicara tetapi orang lain juga sibuk untuk berusaha tidak mendengar, bahkan pergi meninggalkan arena karena sudah tidak tertarik.

Keempat, Siapkan catatan (Taking Note). Ini curhatan, saya merasa adalah makhluk yang paling pelupa di dunia ini. Dan seumur hidup saya selalu tergantung pada catatan tentang hal-hal penting yang akan saya lakukan dan bicarakan berkaitan dengan pekerjaan. Walaupun kelihatan seperti wartawan kemana-mana bawa catatan, namun setidaknya dapat meminimalisir hilangnya informasi yang ingin disampaikan atau diterima.

Taking note juga membantu kita untuk fokus terhadap topik dan mencegah kita melenceng dari tujuan pembicaraan. Walaupun saya akui, masih saja ada yang missed. Yah, manusia kan  tempatnya salah dan lupa.

Kelima, Tanyakan kembali. Ini penting, untuk memastikan apakah penerima informasi atau kita sendiri benar-benar memahami isi pembicaraan yang telah berlangsung.  Bukankah lucu kalau setelah kita pergi, orang-orang bilang ‘tadi dia ngomong apa sih?’.

Keenam, Latih.. latih.. dan latih.Latihan berbicara dapat anda pelajari dari mana saja dan dilakukan dimana saja. Televisi adalah media yang paling mudah untuk melihat profil yang pinter ngomong, jago ngomong dan asal ngomong (kita pasti tahu bedanya). Koran sumber berita sekaligus bisa jadi bahan obrolan, dan akhir-akhir ini saya dan teman saya agak tegila-gila pada yahoo.com dan google.com sebagai mesin pencari informasi tak terbatas.

Berlatih berbicara dapat dilakukan didepan cermin, saat menyetir, dan mungkin juga sebelum tidur. Namun jangan sampai orang lainmenatap heran dan iba pada kita, karena kita latihan berbicara sendiriandi keramaian.

Beberapa hal tersebut walaupun tidak secara otomatis menjadikan kita lihai bermain kata-kata selevel Mario Teguh yang super sekali atau Fenny Rose yang setajam silet, tapi setidaknya dapat membantu kita hidup berdampingan dengan orang lain dengan damai.

Ketika kita dapat dipahami dan memahami orang lain, hasilnya adalah sebuah proses minimalisasi perasaan tidak nyaman dan pengeliminasian rasa diabaikan dalam kehidupan sosial. Kita bisa melihat bahwa sebagian besar pertikaian yang terjadi disebabkan oleh tidak berjalannya komunikasi antara pihak yang bertentangan.

Kemampuan melakukan komunikasi yang mumpuni sangat dibutuhkan oleh pihak auditor ketika berkomunikasi dengan obyek pemeriksaan. Tentu keahlian ini akan membantu terbangunnya kesamaan persepsi antara auditor dengan auditee terhadap sebuah masalah yang dihadapi. Dalam konteks ini, auditor diharapkan untuk meningkatkan kemampuan komunikasinya demi terciptanya proses pengawasan yang efektif.

312 Total kunjungan 1 Kunjungan hari ini

Written by

Filed under: Artikel

Leave a Reply

*